Mengukur dan Mengukir Iman: Sebuah Kisah Inspiratif Mua’dz bin Jabal Saat Bersama Rasulullah Saw

- Kamis, 1 Desember 2022 | 06:00 WIB
Mengukur dan mengukir iman (Ilustrasi: pixabay/Abdullah_Shakoor)
Mengukur dan mengukir iman (Ilustrasi: pixabay/Abdullah_Shakoor)

nunmedia.id – Iman adalah sesuatu yang penting dan fundamental bagi keberagamaan seseorang. Namun, ukuran dan ukiran iman seseorang sulit ditebak dan dipastikan kesempurnaannya, karena ada sisi tertentu dari komponennya yang bersifat abstrak dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

​Salah satu cara yang bisa dipakai mengukur dan menilai ukiran kesempurnaan iman seseorang adalah dengan melihat kata-kata yang sering diucapkan.

Jika kata-kata yang diucapkan selalu mengandung kebaikan, penuh hikmah, membawa kemaslahatan untuk banyak orang, maka itu tanda bahwa keimanannya sempurna. Sebaliknya, jika yang diucapkan selalu mengandung kebencian, buruk sangka, selalu membuat resah, dan menyakiti orang lain, maka itu pertanda bahwa imannya lemah.

Baca Juga: Memetik Hikmah di Balik Bencana

Di dalam Musnad Imam Ahmad dari Anas bin Mâlik, Nabi Saw bersabda:

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍحَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَايَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ .
​“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah hingga hatinya istiqamah. Dan hatinya tidak akan istiqamah hingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, dia tidak akan masuk surga.”[HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13].

​Dalam hadis lain riwayat Imam Tirmidzi dikisahkan bahwa suatu ketika Mua’dz bin Jabal berjalan pagi bersama Nabi Saw. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Mu’adz untuk minta petunjuk kepada Nabi Saw mengenai jalan keselamatan menuju surga dan jauh dari neraka. “Wahai Rasulullah, beritahulah saya tentang suatu perbuatan yang bisa memasukkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari neraka,” tanya Mu’adz seraya minta petunjuk.

Baca Juga: Merenungi Kematian Sama dengan Meluruskan Kehidupan

Nabi Saw menjawab, “Kamu telah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang agung. Sungguh sedikit orang yang dimudahkan oleh Allah untuk bertanya tentang hal itu.” Kemudian beliau melanjutkan, “(Amal itu adalah) kamu menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.”

​Kemudian beliau bertanya kepada Muadz, “Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang pintu-pintu kebaikan?. Tanpa menunggu respon dari Mu’azd, Nabi Saw melanjutkan, “Puasa itu adalah perisai, sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat memadamkan api, serta shalat seseorang pada kesunyian malam (qiyamul lail).”

Kemudian Nabi Saw membaca firman Allah Ta’ala, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17).

Halaman:

Editor: Nurhafid Ishari

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Viral Mandi Lumpur di TikTok, Ini Bahayanya!!

Kamis, 19 Januari 2023 | 07:40 WIB

Tumbuhnya Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu

Rabu, 18 Januari 2023 | 20:30 WIB

Memperhatikan Nilai Moral dan Agama di Media Sosial

Kamis, 12 Januari 2023 | 07:00 WIB

Agama dan pengaruhnya terhadap Proses kesehatan mental

Selasa, 10 Januari 2023 | 20:16 WIB

Pemahaman Konteks Manusia dan Agama

Selasa, 10 Januari 2023 | 20:12 WIB

Kesehatan Mental dalam Pandangan Psikologi Agama

Selasa, 10 Januari 2023 | 20:05 WIB

Pentingnya Pemahaman Teori Agama Dan Kesehatan Mental

Selasa, 10 Januari 2023 | 20:01 WIB

Pengaruh Media Zaman Dahulu

Selasa, 10 Januari 2023 | 19:55 WIB
X